BREAKING NEWS
Loading...
Bersyukur

Tetap bersyukur akan membuat hidup lebih tenang..

Era Digital

Mari songsong era digital dengan penuh semangat dan percaya diri.

Hidup itu indah

Hidup adalah anugerah.

Karya

Terus belajar dan berkarya.

RIZALmedia

Disinilah semua ide dan gagasan saya persembahkan.

Kepanjen Idol

Sebuah wadah yang saya persembahkan untuk mendukung generasi muda kita.

Komunitas Blogger Indonesia

Sebuah komunitas yang saya dirikan dan persembahkan untuk kawan-kawan para blogger dari seluruh Indonesia.

Radio Kepanjen FM

Media radio yang pernah saya dirikan untuk misi hiburan dan pendidikan.

Tentang Arizal

Wawasan

Belajar Blog

Belajar Desain Grafis

Belajar Multimedia

RIZALmedia

Software

Belajar Media Sosial

Film

Hiburan

Negara Jangan Menjarah Bumi Dengan Dalih Kemajuan, Lihat Ancaman Nyata di Sibolga

 

Banjir dan Longsor di Sibolga | Sumber: Samarinda TV


Di saat bencana alam datang karena ulah manusia itu sendiri, seringkali kita melihat reaksi yang tidak seimbang. Banyak orang yang lebih sibuk membela diri, menyalahkan orang lain, atau mencari kambing hitam, daripada melakukan evaluasi dan introspeksi diri.


Padahal, bencana alam seringkali merupakan konsekuensi dari tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti perusakan lingkungan, polusi, dan perubahan iklim. Jika kita tidak mau mengakui kesalahan kita sendiri dan tidak mau melakukan perubahan, maka bencana alam akan terus datang dan semakin parah.


Kita perlu memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk melakukan evaluasi dan perubahan. Kita perlu mengakui bahwa kita semua memiliki peran dalam menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana alam. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik dan lebih aman bagi kita semua.


Negara harus berhenti merampas hak dan merusak hutan! Peristiwa di Disbolga (Disaster Bolsga) adalah contoh nyata betapa besarnya dampak dari kebijakan yang tidak bertanggung jawab. Itu bukan hanya bencana alam, tapi juga bencana manusia yang disebabkan oleh keserakahan dan ketidakpedulian.


Kita harus mengakui bahwa kebijakan yang merusak lingkungan dan mengambil hak-hak masyarakat adalah dosa besar. Tuhan menunjukkan betapa ngerinya dampak dari kebijakan seperti itu, dan kita harus belajar dari peristiwa itu.


Negara harus berubah, harus lebih peduli dengan lingkungan dan hak-hak masyarakat. Kita harus punya pemimpin yang bertanggung jawab dan memiliki visi besar untuk menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Seringkali kepentingan investasi menjadi prioritas utama, bahkan jika itu berarti mengabaikan hak-hak orang lain dan lingkungan. Hutan, sebagai contoh, seringkali menjadi korban dari kepentingan investasi yang tidak bertanggung jawab.


Perusahaan-perusahaan besar dan pemerintah seringkali lebih memprioritaskan keuntungan ekonomi daripada menjaga kelestarian hutan dan hak-hak masyarakat adat. Mereka membuka hutan untuk dijadikan perkebunan, pertambangan, dan proyek-proyek lainnya, tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial yang akan terjadi.


Namun, kita harus ingat bahwa hutan adalah sumber kehidupan bagi banyak masyarakat dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Kita harus memilih untuk memprioritaskan kelestarian hutan dan hak-hak masyarakat, bukan hanya kepentingan investasi.


Ditulis oleh: Fredi Moses Ulemlem

Fakta Menyakitkan menjadi Orang Jujur


Kejujuran sering dipuji sebagai fondasi hubungan yang sehat, namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa orang yang terlalu jujur justru lebih sering ditinggalkan teman dibandingkan mereka yang lihai memanipulasi. Fakta ini terdengar ironis, tetapi sangat relevan dengan dinamika pertemanan di era modern.


Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat contohnya. Ada teman yang selalu bicara apa adanya, bahkan ketika menyakitkan, akhirnya dijauhi karena dianggap tidak menyenangkan. Sebaliknya, ada orang manipulatif yang pintar menjaga citra, pandai berkata manis meski tidak tulus, dan justru lebih banyak memiliki lingkaran sosial. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan kritis: apakah kejujuran benar-benar dihargai, atau justru menjadi alasan seseorang kehilangan koneksi sosial?


Mari kita kupas tujuh alasan psikologi mengapa orang jujur lebih sering kehilangan teman dibandingkan orang manipulatif.


1. Kejujuran sering dianggap terlalu keras


Banyak orang tidak siap mendengar kebenaran yang menyakitkan. Orang jujur, dengan niat baik, menyampaikan fakta apa adanya. Namun, di telinga yang rapuh, kata-kata jujur terdengar seperti kritik atau serangan. Inilah yang membuat mereka dijauhi meski maksudnya bukan untuk melukai.


Contoh nyata, seorang teman yang berkata, “Kamu sebenarnya bisa lebih baik kalau tidak malas,” mungkin berniat memotivasi. Tetapi, penerimanya justru merasa disindir atau direndahkan. Sebaliknya, orang manipulatif yang hanya berkata, “Kamu hebat kok, tenang aja,” lebih mudah diterima meski itu sekadar basa-basi.


Jujur memang mulia, tetapi kejujuran tanpa sensitivitas sering membuat orang lain defensif. Ini menjadi awal renggangnya pertemanan.


2. Manipulasi lebih sering menciptakan kenyamanan semu


Orang manipulatif tahu cara berbicara manis tanpa membuat orang lain tersinggung. Mereka pandai memainkan kata-kata sehingga lawan bicara merasa dihargai, meski sebenarnya sedang diarahkan atau dimanfaatkan. Secara psikologis, manusia lebih suka mendengar hal yang menyenangkan daripada kebenaran pahit.


Dalam interaksi sehari-hari, seorang teman manipulatif bisa selalu mengatakan hal yang ingin kita dengar. Mereka memberi validasi, bahkan jika tidak tulus, dan membuat suasana terasa nyaman. Sementara itu, orang jujur yang berkata apa adanya sering dianggap sebagai ancaman terhadap ego.


Kenyamanan semu inilah yang membuat orang manipulatif lebih banyak diterima dalam lingkaran sosial, meskipun hubungan itu rapuh dan tidak otentik.


3. Kejujuran sering memicu konflik


Konflik tidak selalu muncul dari kebohongan, justru sering lahir dari kejujuran yang diungkapkan pada momen yang salah. Orang jujur berani menyampaikan perasaan mereka, meski itu berpotensi menyinggung. Hal ini membuat hubungan retak karena tidak semua orang memiliki kedewasaan untuk menghadapi keterusterangan.


Misalnya, dalam sebuah kelompok kerja, ada anggota yang jujur mengkritik ide teman karena dianggap lemah. Meski kritik itu benar, seringkali justru menimbulkan rasa sakit hati yang berkepanjangan. Di sisi lain, orang manipulatif memilih diam atau berpura-pura setuju, sehingga terhindar dari konflik terbuka.


Konflik memang tidak selalu buruk, tetapi bagi banyak orang, menjaga harmoni lebih diutamakan daripada menerima kebenaran. Itulah sebabnya kejujuran sering dianggap sebagai pemicu masalah.


4. Manipulasi pandai menyamarkan kepentingan pribadi


Orang manipulatif biasanya memiliki agenda tersembunyi, tetapi mereka tahu cara membungkusnya dengan bahasa yang menyenangkan. Mereka bisa mengajukan permintaan tanpa terlihat menuntut, atau membuat orang lain merasa bersalah jika menolak. Inilah trik halus yang membuat mereka tetap diterima di lingkungan sosial.


Berbeda dengan orang jujur yang blak-blakan soal keinginan mereka. Ketika seorang teman jujur berkata, “Aku butuh bantuanmu,” itu terdengar lugas, tetapi bagi sebagian orang terasa memberatkan. Sedangkan manipulasi seperti, “Aku bingung banget, kalau ada yang bisa bantu aku senang sekali,” terdengar lebih halus dan membuat orang lebih rela membantu.


Kejujuran sering kalah dalam arena sosial karena tidak pandai berkamuflase. Padahal, keterusterangan seharusnya menjadi nilai, bukan kelemahan.


5. Orang jujur membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan diri sendiri


Kejujuran memiliki efek cermin. Saat orang jujur mengungkapkan apa adanya, itu membuat orang lain berhadapan dengan kenyataan yang mungkin mereka hindari. Efek ini menciptakan ketidaknyamanan yang dalam, sehingga orang memilih menjauh daripada menghadapi diri sendiri.


Contoh mudah terlihat dalam persahabatan. Teman yang jujur mungkin berkata, “Aku rasa kamu tidak bahagia dengan pasanganmu,” sebuah kalimat yang bisa membuka luka. Meski tujuannya baik, mendengar kenyataan yang menohok sering membuat orang defensif dan akhirnya memilih menjauh.


Sebaliknya, orang manipulatif lebih memilih memberikan ilusi, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, dan justru membuat lawan bicara lebih tenang meski tidak realistis.


6. Lingkungan sosial sering lebih menghargai kepalsuan yang sopan


Ada norma tidak tertulis dalam masyarakat: lebih baik berkata manis meski palsu daripada berkata jujur yang menyakitkan. Norma ini membuat orang manipulatif tampak lebih disukai karena mereka pandai menjaga citra. Dalam perspektif psikologi sosial, ini disebut impression management, yaitu seni mengatur kesan.


Misalnya dalam acara kumpul keluarga, orang jujur yang mengomentari masakan terlalu asin mungkin dianggap tidak sopan. Sementara orang manipulatif yang memuji meski tidak suka justru dihargai karena menjaga suasana.


Di sini terlihat jelas bahwa kejujuran sering kalah oleh norma sosial yang lebih menghargai kesopanan semu dibanding keterusterangan yang tulus.


7. Orang jujur sering kesepian tetapi lebih otentik


Meski orang jujur sering kehilangan teman, bukan berarti mereka selalu kalah. Justru dalam jangka panjang, kejujuran menyaring hubungan. Mereka mungkin memiliki sedikit teman, tetapi pertemanan itu lebih otentik dan kuat. Sedangkan orang manipulatif bisa memiliki banyak lingkaran, tetapi rapuh dan penuh kepura-puraan.


Dalam kehidupan nyata, orang yang jujur mungkin hanya memiliki segelintir teman dekat yang bisa bertahan lama. Namun, hubungan itu jauh lebih bernilai karena dibangun atas dasar kepercayaan, bukan ilusi. Hal ini membuat mereka tampak kesepian di permukaan, tetapi lebih sehat secara emosional dalam jangka panjang.


Di sinilah kita melihat paradoksnya. Orang jujur memang lebih sering kehilangan teman, tetapi justru menemukan yang sejati.


Kejujuran memang membuat jalan hidup sosial lebih sulit, tetapi itu bukan kelemahan. Justru di tengah dunia yang penuh manipulasi, kejujuran adalah keberanian untuk tetap otentik. Orang manipulatif mungkin lebih disukai, tetapi seringkali hubungan mereka rapuh dan penuh kepalsuan.


Apakah kamu lebih memilih jujur meski kehilangan banyak teman, atau manipulatif demi tetap diterima banyak orang? Tulis pendapatmu di kolom komentar dan bagikan artikel ini agar lebih banyak orang berani melihat sisi lain dari kejujuran.

Saya dukung Paskibraka Wanita Berseragam Sama Seluruhnya! Ingat, INDONESIA Negara yang Berdaulat!


Agama itu adalah prinsip dan amat pribadi sifatnya. Agama itu urusan manusia dengan Tuhan, bukan manusia dengan manusia.


Indonesia adalah negara demokrasi yang berkebhinnekaan, bukan negara agama. Indonesia negara yang berdaulat.


Jadi, dalam hal ini janganlah membawa-bawa agama dalam urusan negara yamg berkhebhinnekaan.


Dalam hal paskibraka yang diwakili adalah negara bukan mewakili agama.


Saya dukung Paskibraka Wanita kembali pada setelan khas Paskibraka Wanita! 


Meski dari daerah yang berbeda (Bhinneka), semua wanita yang bertugas sebagai Paskibraka harus berpakaian sama (Tunggal Ika) mewakili INDONESIA.


Melepas jilbab, celana cingkrang, atau kalung salib dalam Upacara Bendera Kenegaraan Republik Indonesia adalah bentuk kepatuhan terhadap aturan seragam yang dirancang untuk menciptakan keseragaman dan persatuan.


Inklusivitas dalam acara kenegaraan menekankan kesetaraan, bukan perbedaan, sehingga semua peserta, tanpa menonjolkan identitas pribadi, dapat berdiri sebagai satu bangsa, menampilkan semangat kebersamaan di atas identitas individual. 


Sebarkan bagi yang sependapat!

Analisis Lengkap Penembakan Donald Trump (Mantan Presiden AS)


Penembakan terhadap mantan Presiden Trump ini pasti akan berujung ke perang sosmed!

Kanan: "ini pembunuhan terencana dan terstruktur!"

Kiri: "Halah, sandiwara! Gimmick politik!"


Yang banyak orang tidak tahu adalah US, pengamanan ex-presiden dan calon presiden beda!



Untuk mantan/calon presiden, pengamanannya tidak seketat presiden yang menjabat.


USSS masih in charge, tetapi outer perimeter protection & surveillance biasanya di "outsource" ke polisi setempat.


Pahami ini dulu, baru kita bisa memahami, "kok bisa sampsi ketembak?



(Di atas adalah foto penembaknya koit)

Kok bisa ketembak? Gampang sih bagi yang cuman bisa cuap² dibelakang layar. Kondisi dilapangan tidak segampang itu.


Pelaku pasti sudah melakukan perencanaan, dan tau resource pengamanan calon presiden tidak sebanyak pengamanan presiden aktif.



"Kok gak keliatan" ya itu foto diambil dari sudut beda dari lokasi si polisi di atap.


Dalam seni concealment, idealnya emang tempat kita beraksi dapat concealment dari segala penjuru, tapi prioritas adalah concealment dari arah target dan aset² lawan.



Kalau kelihatan pas mau nembak, kok gak di dor aja sekalian?


Gak segampang itu. Ini mantan/calon presiden, bukan presiden aktif. Rules of engagement + rules governing authorization to kill nya beda.


Kalau presiden aktif, si polisi bisa boleh tembak duluan demi melindungi.



Bisa boleh? Bukan pasti?


Ya, outer protection ada yang statis, ada yang mobile. Ini membuat resiko tembak teman sendiri.


Kalau untuk proteksi ex/calon presiden, target confirmation and authorizarion requirementnya pasti  lebih tinggi.


(Di atas ini video kejadian)


Kok bisa bobol?

Kombinasi planning, concealed approach, dan pengunaan baju yang dipilih si penembak dan juga stricter confirmation & authorization rules di perlindungan ex/calon presiden dibanding presiden aktif, semua menjadi faktor.


(Di atas ini video setelah kejadian)

Kalau upaya selevel ini targetnya adalah presiden aktif, kemungkinan besar si penembak sudah ditembak mati duluan oleh USSS/polisi.


Yang pasti, ini X/sosmed lain bakal ramai lempar²an n claim² konspirasi dan counter-conspiracy.


Hati² teman². Jangan mudah terhasut ya 🙏👍



Kok bisa si penembak mendekat? Ada beberapa hal yang dengan "hindsight" membuat pertanyaan timbul.


1. Lokasi acaranya, "long and narrow", dengan bangunan yang bisa dipakai sebagai vantage point hanya ada dibelakang panggung dan gedung2 di kiri panggung, tempat si penembak.


2. Set up acara seperti ini dengan "single defensive vantage point" set up sih minta/cari masalah.

Lokasi bangunan di kiri panggung merupakan "cluttered approach", tapi counter sniper malah di belakang panggung yang approachnya  "uncluttered" dan aksesnya bisa dikendalikan.


3. Atap di bangunan2 di kiri panggung, atapnya tidak datar, ini memberikan peluang "concealed approach" ke puncak atap untuk melakukan penembakan.


4. Kalau hanya bisa di set up single defensive vantage point, ironisnya, menurut pendapat saya, lokasi idealnya malah ada di lokasi si penembak, kenapa? Concealed position dari area penonton, dengan wide sweeping arc of fire yang bisa digunakan (termasuk bisa fire cover against bangunan di kanan panggung).


5. Saya khawatir fokusnya security detailnya adalah 2 arah:

a. Attacker approach di ground level dari pepohonan di kiri belakang panggung.

b. Attacker from the crowd.


6. Dengan 5.a. dan 5.b., memang posisi bangunan di kiri panggung menjadi tidak ideal.


7. Seharusnya mereka menggunakan minimum 2 defensive vantage point, dimana salah satunya adalah posisi si penembak, yang satu lagi bisa dibelakang panggung.


Kita tidak tahu risk assessment yang dilakukan seperti apa, yah, ini cuman omongan sekedar "with hindsight". Yang pasti, inquiry incident ini akan menjadi pusat atensi security analyst dan protection providers.


oleh : Gerry Soejatman (x.com/GerryS)

Antara Mengendalikan dan Dikendalikan Teknologi


Saat ini kita telah berada di tengah-tengah teknologi. Berbagai kehidupan kita tidak lepas dari peran serta teknologi. Yang termudah adalah ponsel pintar atau smartphone kita, termasuk komputer atau laptop kita. Ketika kita mau merenungkan, seberapa lama sih, kita selalu bersama "mereka"?.

Nah, saat kita sudah sadar, saat ini kita telah berada di tengah-tengah teknologi, timbul pertanyaan yang lebih penting, "Kita sedang mengendalikan atau dikendalikan teknologi sih,?"

Kalau kita berpendapat, jelas kita yang mengendalikan teknologi. Oh iya? Bukannya semua algoritma di berbagai perangkat teknologi kita adalah buatan orang lain, dan kita telah mengikuti mereka semua.

Media Sosial alias medsos juga demikian. Semua memiliki perintah-perintah yang kita akan mengikuti perintah tersebut. Ya, demikianlah semua algoritma bekerja.

Saat kita akan mengupload status di medsos kita untuk pagi ini saja, misalkan, maka pertama kita harus membuka smartphone atau komputer kita. Lalu, kita harus membuka medsos kita. Kita buka dulu beranda mungkin, untuk menyaksikan berbagai status milik orang lain di beranda kita, lalu cara post status kita buka bagian mengetik status, kita juga menambahkan foto mungkin, atau video, dan lalu kita klik post.

Semua bagian halaman di medsos kita. Kita telah menghafalnya. Ada perubahan sedikit saja di beberapa fasilitasnya, maka kita akan belajar lagi. Nah, seperti itulah, sejatinya kita telah dikendalikan algoritma orang lain juga. Kita telah dikendalikan teknologi juga.

Nah, sekarang timbulah fakta baru, "Cara berfikir manusia secara umum di dunia ini akan berkembang dan berganti mengikuti algoritma yang telah diciptakan banyak orang tersebut." 

Dalam berjalannya waktu, akan ada perang algoritma. Setiap orang akan berusaha menciptakan teknologi dalam bentuk apa pun itu. Misal dalam bentuk media sosial. Lalu akan menciptakan trend baru. Menciptakan algoritma baru. Setelah itu cara berfikir manusia akan berubah dan mengikuti mereka.

Ya, teknologi adalah media mempengaruhi semua manusia dengan mudah saat ini. 

Saat ini, setelah sadar dengan hal ini, hal yang terpenting adalah, bagaimana cara kita mengendalikan teknologi?, agar tidak melulu kita dikendalikan teknologi.

- Arizal Firmansyah -
Pendiri dan Pembina Yayasan Indonesia Digital Merdeka

Seragam Baru 'Krem' Satpam, Akankah Polisi 'Baper' Lagi?


*Seragam baru


Baiklah, mereka tetap maksa seragam baru. Sudah dirilis hari ini. Jadi buat pengurus komplek, siap2 ngeluarin duit buat seragam satpam komplek. Buat kantor2, perusahaan2, juga siap2 ngeluarin duit buat seragam baru satpamnya.


Pun jika selama ini harus dibayar sendiri oleh satpam, maka siap2 deh ngutang, nyicil beli seragam baru. Apes, sudah gaji kecil, pun menanggung beli seragam gara2 ganti kebijakan. Catat baik2, kalaupun hanya beli kemeja, itu tetap buanyak duitnya, cuy. Ada jutaan satpam di Indonesia.


Tuan, Nyonya, pastikan kali ini kalian sudah final. Nanti beberapa bulan ke depan, kalian ganti lagi kebijakan. Karena bukan apa2, kalau ditengok2, seragam baru ini keren. Lebih keren dibanding seragam polisi loh. Repot kan kalau ternyata rakyat lebih hormat dan love sama seragam baru satpam, eh polisi mendadak baperan, minta ganti lagi seragam satpamnya. Acha acha.... Begitulah.


Kamu mah enak, gaji, tunjangan, dinas, seragam, kendaraan, dll, bahkan pajak saja ditanggung uang rakyat. Nah, wong cilik itu, banyak yg harus bayar sendiri.


*Tere Liye, penulis novel 'Negeri Para Bedebah'

**foto dari detik (Andhika Prasetia) Lihat Lebih Sedikit

Pulang Pagi karena Guru Rapat, Benar-benar Kebahagiaan Jaman SD yang Tidak Ada Tandingannya


Ya, benar. Pulang pagi karena guru rapat, benar-benar kebahagiaan jaman SD yang tidak ada tandingannya.

Di masa pandemi covid-19 kali ini semua sekolah dilaksanakan secara daring, hanya beberapa kali pertemuan tatap muka, sehingga nuansanya akan sangat berbeda dengan jaman SD di era 90 atau 2000an.

Semoga pandemi segera berakhir, dan anak-anak bisa kembali merasakan kebahagiaan sekolah seperti jaman kala itu. Amin..


Top