BREAKING NEWS
Loading...
Bersyukur

Tetap bersyukur akan membuat hidup lebih tenang..

Era Digital

Mari songsong era digital dengan penuh semangat dan percaya diri.

Hidup itu indah

Hidup adalah anugerah.

Karya

Terus belajar dan berkarya.

RIZALmedia

Disinilah semua ide dan gagasan saya persembahkan.

Kepanjen Idol

Sebuah wadah yang saya persembahkan untuk mendukung generasi muda kita.

Komunitas Blogger Indonesia

Sebuah komunitas yang saya dirikan dan persembahkan untuk kawan-kawan para blogger dari seluruh Indonesia.

Radio Kepanjen FM

Media radio yang pernah saya dirikan untuk misi hiburan dan pendidikan.

Tentang Arizal

Wawasan

Belajar Blog

Belajar Desain Grafis

Belajar Multimedia

RIZALmedia

Software

Belajar Media Sosial

Film

Hiburan

Susunan Nama Kru Film yang berada di Poster Film


Buat Anda yang dapat tugas dari sekolah atau kuliah untuk membuat poster film, maka Anda wajib memiliki susunan nama kru (crew) film berikut ini, langsung saja copas gays.. Anda bisa mengganti nama Arizal dengan nama Anda atau nama teman sekelas Anda atau nama tetangga-tetangga Anda, hehe.

Sutradara: Arizal - Penulis: Arizal - Produser - Produser Eksekutif: Arizal - Pemeran Utama: Arizal - Pemeran Pendukung: Arizal - Produser Pelaksana: Arizal

Penata Kamera: Arizal - Penata Artistik: Arizal - Penyunting Gambar: Arizal - Produser Rekanan: Arizal - Penata Kostum: Arizal - Penata Rias: Arizal

Penata Musik: Arizal - Penata Suara: Arizal - Penata Peran: Arizal


Manajer Unit Produksi: Arizal - Asisten Sutradara 1: Arizal - Asisten Sutradara 2: Arizal - Departemen Stunt: Arizal - Departemen Produksi - Asisten Manajer Unit Produksi: Arizal

Asisten Produksi: Arizal - Koordinator Produksi: Arizal - Manajer Lokasi: Arizal - Pencari Lokasi: Arizal - Runner: Arizal - Craft Service: Arizal = Departemen Transportasi -

Koordinator Transportasi: Arizal - Supir: Arizal - Departemen Penyutradaraan - Pencatat Adegan: Arizal - Asisten Pencatat Adegan: Arizal - Departemen Casting - 

Asisten Penata Peran: Arizal - Koordinator Pemeran: Arizal - 


Departemen Kamera - Asisten Kamera: Arizal - Clapper / Loader: Arizal - Still Photographer: Arizal - Digital Imaging Technician: Arizal - Video Playback Assistant: Arizal - 

Departemen Pencahayaan - Gaffer: Arizal - Best Boy (Lighting): Arizal - Departemen Grip -Key Grip: Arizal - Best Boy (Grip): Arizal - Operator Genset: Arizal - 

Departemen Artistik - Asisten Penata Artistik: Arizal - Set Designer: Arizal - Set Builder: Arizal - Ilustrator: Arizal - Prop Master: Arizal - Kru Art: Arizal - Departemen Kostum - 

Asisten Penata Kostum: Arizal - Penjahit: Arizal - Departemen Rias dan Rambut - Asisten Penata Rias: Arizal - Asisten Panata Rambut: Arizal - Departemen Suara - 

Perekam Suara: Arizal - Asisten Perekam Suara: Arizal - Boom Operator - Departemen Pascaproduksi - Asisten Editor: Arizal - Visual Effect Supervisor: Arizal - 

Penyunting Suara: Arizal - ADR Editor: Arizal - Foley Artist: Arizal - Music Supervisor: Arizal - Musik: Sebuah Teknologi-Arizal - 

Ucapan Terima Kasih Khusus: Tuhan Yang Maha Kuasa - Ucapan Terima Kasih: Masyarakat yang terlibat dalam produksi film ini..


@ Copyright 2022: RIZALmedia

Daftar Istilah Dalam Pembuatan Skrip / Skenario / screenplay



Menulis Skenario Film

Menulis skenario film memang sangat menyenangkan. Di sana kita bisa menerjemahkan setiap kalimat dalam naskah menjadi sebuah gambaran imajinasi visual. Skenario adalah sebuah naskah cerita yang menguraikan urut-urutan adegan, tempat, keadaan, dan dialog, yang disusun dalam konteks struktur dramatik; fungsinya adalah untuk digunakan sebagai petunjuk kerja dalam pembuatan film. Tentu saja, bagi yang tertarik menulis skrip/ skenario, harus paham dulu bagaimana cara menuliskannya. Nah, dalam proses dunia penulisan skenario, terdapat banyak istilah-istilah penting;

Di bawah ini adalah daftar istilah dalam skenario yang saya ambil dari buku Kunci Sukses Menulis Skenario – Elizabeth Lutters :

ACTION = Selain diartikan sebagai perintah sutradara saat pengambilan gambar, ACTION juga bisa diartikan sebagai gerak laku pemeran, yang terjadi dalam suatu adegan. Selain itu, kata ACTION juga bisa dipakai untuk menentukan jenis sebuah film, yang diartikan sebagai film laga.

BIG CLOSE UP (BCU) = pengambilan gambar pada jarak sangat dekat. Misalnya, dalam gambar orang hanya terlihat bibirnya saja. Contoh pemakaian dalam skenario, untuk menunjukkan sebuah cincin di jari manis tokoh, kita bisa pakai BCU untuk cincin. Namun jika ini sudah diperjelas dalam deskripsi, tidak perlu ditulis BCU lagi, sebab ini adalah tugas sutradara.

CLOSE UP (CU) = Pengambilan gambar pada jarak dekat. Dalam gambar orang terlihat wajahnya saja. Untuk pemakaian dalam skenario, CU bisa untuk menegaskan ekspresi tokoh. Namun, penggunaan CU sebisa mungkin untuk hal-hal yang sangat penting saja, misalnya menegaskan sebuah lirikan mata dan senyum sinis A pada B. Jika tidak terlalu penting, jangan gunakan tanda CU ini karena masalah shot adalah wilayah sutradara.

COMMERCIAL BREAK = Jeda dalam tayangan sinetron yang diisi iklan. Biasanya penulis skenario juga harus memperhitungkan saat jeda ini, dengan memberikan suspense pada cerita–sebelum commercial break–agar penonton tetap menunggu kelanjutan cerita kita, tanpa berpindah ke channel lain.

CREDIT TITLE = Penayangan nama tim kreatif dan para ahli, serta semua orang yang terlibat dalam pembuatan sinetron/ film tersebut.

CUT BACK TO = Transisi dengan tempo cepat, tapi kembali ke adegan/ lokasi yang telah dilihat sebelumnya. Contoh penggunaannya dalam skenario, misalnya seorang anak menangis karena terpisah dari ibunya di mal, CUT TO: Ibu sedang mencari anaknya dengan gelisah di sudut yang lain, maka ketika akan kembali ke gambar anak yang menangis tadi, yang saat ini mungkin sudah dibantu satpam, transisinya kita pakai CUT BACK TO.

CUT TO = Transisi/ peralihan dengan tempo yang cepat, misalnya untuk menggambarkan kejadian yang terjadi bersamaan tapi pada tempat yang berbeda. Atau juga kelanjutan adegan, tapi masih pada hari yang sama.

DISSOLVE TO = Transisi yang menunjukkan gambar menjadi kabur, kemudian masuk ke gambar adegan berikutnya. Dalam skenario, ini biasanya dipakai untuk menggambarkan sebuah mimpi, mengenang masa lalu, atau flash back, membayangkan sesutau yang akan terjadi.

DIALOG = Kalimat yang diciptakan oleh penulis skenario, yang nantinya diucapkan oleh seorang aktor. DIALOG harus mewakili peran, karakter, dan perasaan si tokoh dalam cerita.

DURASI = waktu tayang di televise sudah termasuk commercial break. Durasi yang umum: 30 menit, biasanya untuk sinetron serial komedi. Durasi 60 menit, biasanya untuk sinetron serial drama, durasi ni paling umum kita lihat di televise. Durasi 90 menit, biasanya untuk sinetron cerita lepas, semacam telesinema dan FTV.

ESTABLISHING SHOT = Biasa disingkat ESTABLISH saja, artinya pengambilan gambar secara penuh, terlihat secara keseluruhan. Biasanya pengambilan dari jarak jauh sehingga gambar terlihat kecil. Contoh, jika kita ingin memasuki setting sebuah kamar dalam rumah sakit, biasanya kita beri dulu ESTABLISH gedung rumah sakit secara keseluruhan. Namun, jika tempat itu sudah diperlihatkan secara keseluruhan, tidak perlu ada ESTABLISH berulang kali.

EXT. Singkatan dari EXTERIOR, biasanya dalam scenario ditulis pada deretan judul scene, untuk menunjukkan keterangan tempat di luar ruangan. Tulisan EXT. dan INT. bisa digabung menjadi misalnya: EXT./INT. yang menunjukkan adegan di jalanan/ dalam mobil. Bisa juga gabungan itu dipakai jika menunjukkan adegan pada teras sebuah rumah.

FADE OUT = Transisi gambar dari terang ke gelap dengan cara lambat.

FADE IN: Transisi gambar dari gelap ke terang dengan cara lambat. Dalam scenario, penulisan FADE OUT dan FADE IN biasanya bersamaan untuk transisi yang menujukkan perubahan waktu, bisa dari malam ke pagi, atau dalam hitungan hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Selain menujukkan perubahan waktu, bisa juga menggambarkan perubahan keadaan dan perubahan lokasi.

FLASH BACK = Bisa diartikan sebagai kilas balik. Cerita yang kembali pada waktu sebelum kejadian berlangsung. FLASH BACK bisa menunjukkan kemunduran waktu beberapa tahun ke belakang, bisa juga hanya dalam waktu beberapa saat sebelumnya.

FREEZE = Menghentikan aksi atau bertahan pada posisi akhir adegan. Dalam penulisan scenario biasanya digunakan untuk akhir sebuah episode, di mana gambar berhenti mengakhiri sebuah cerita.Akhir cerita ini pada sinetron serial biasanya diambil gambar yang paling menegangkan sehingga akan terjadi suspense bagi penonton. FREEZE umumnya untuk gambar tokoh sentralnya.

INSERT: Sisispan adegan pendek dan singkat tapi penting, di dalam sebuah scene. Misalnya, pada adegan beberapa orang ngobrol di dalam ruang tamu, tiba-tiba di luar ada orang yang mengintip dan menguping pembicaraan mereka. Meskipun setting berubah, kita tak perlu membuat scene baru untuk adegan mengintip itu, cukup dengan INSERT saja.

INTERCUT = Perpindahan dengan cepat, dari satu adegan ke adegan lain yang berada dalam satu kesatuan cerita. Misalnya adegan telepon, dua setting yang bergantian ditampilkan, maka kita bisa menggunakan INTERCUT untuk pergantian cepat setiap dialog si penelepon dan orang yang ditelepon.

INT. = Singkatan dari INTERIOR, penulisannya dalam scenario sama dengan EXT., tapi ini untuk menujukkan keterangan tempat di dalam ruangan.

LONG SHOT (LS) = Pengambilan gambar pada jarak jauh. Biasanya untuk gambar yang harus terlihat keseluruhan. Misalnya gambar orang akan terlihat seluruh badan berikut latar belakangnya. Namun, jika tak terlalu penting jangan cantumkan LS dalam scenario karena sama seperti CU dan BCU, ini juga wewenang sutradara.

MAIN TITLE = Judul cerita pada sebuah tayangan sinetron/ film. Dalam penulisan scenario biasanya ditampilkan atau ditulis setelah adegan teaser. Dan dilanjutkan dengan penayangan credit titles.

MONTAGE = Beberapa gambar yang menujukkan adegan berkesinambungan dan mengalir, bisa beberapa lokasi yang berbeda, tapi menyatu dalam rangkaian. Dalam penulisan scenario, misalna seorang sedang putus cinta, maka ia mulai mengenang masa indahnya dulu bersama mantan kekasihnya. Dalam hal ini kita pakai MONTAGE dengan menampilkan beberapa adegan indah anatara si tokoh dan mantan kekasihnya ketika masih bersama, kita tampilkan mereka sedang berkejaran di pantai, lalu kita tampilkan juga saat mereka berduaan di taman bunga, lalu saat mereka saling menukar barang kenangan, dsb.

RATING = Ini kita istilahkan sebagai survey jumlah penonton yang menyaksikan tayangan di televise, dalam hal ini termasuk tayangan sinetron yang cerita dan skenarionya kita tulis. Survei ini dilakukan oleh sebuah lembaga bernama AC NIELSON, yang sudah diakui kredibilitasnya oleh masyarakat pertelevisian di Indonesia. Setiap minggunya pihak ini akan memebrikan lembaran hasil surveinya ke semua stasiun televise dan PH, di lembaran itu akan terlihat urutan tayangan mulai dari yang terbanyak penontonnya, hingga yang paling sedikit. RATING sampai saat ini masih menjadi tolok ukur tayangan di Indonesia. RATING tinggi berarti tayangan dianggap laku dan secara bisnis menguntungkan PH/ Broadcast, sehingga diproduksi terus, sebaliknya bila RATING rendah maka tayangan akan cepat dihentikan agar tidak merugikan produksi.

SCENE = Kata lain dari adegan, yaitu bagian terkecil dari sebuah cerita.

SCENARIO = Artinya sama dengan scenario, hanya masalah perbedaan bahasa saja, penulisan menggunakan “K” karena sudah diindonesiakan.

SCREENPLAY = Artinya juga sama dengan Scenario/ Skenario.

SCRIPTWRITER = Orang yang kerjanya membuat/ menulis scenario atau disebut juga Penulis Skenario.

SEQUENCE = Kata lain dari Babak, yaitu kumpulan dari beberapa adegan.

SLOW MOTION = Gerakan yang terlihat lebih lambat dari biasanya. Hal ini biasanya digunakan untuk menampilkan adegan yang sangat dramatis. Misalnya, adegan seorang tokoh ditembak dari belakang. Saat si tokoh jatuh, gerakan bisa saja dibuat SLOW MOTION agar lebih terkesan dan menyentuh perasaan penontonnya.

SOUND EFFECT = Biasanya dalam penulisan digunakan istilah FX, maksudnya suara yang dihasilkan di luar suara mausia dan ilustrasi musik. Misalnya, suara telepon berdering, bel tanda masuk sekolah, suara alat dapur berjatuhan, dsb.

SPLIT SCREEN = Dua adegan berbeda yang muncul pada satu layer. Bisa kita pisahkan dengan garis vertical atau horizontal. Pada penulisan dalam scenario bisa kita pakai saat ingin menggambarkan adegan telepon yang menampilkan ekspresi kedua tokoh secara bersama-sama.

TEASER = Adegan gebrakan, ditampilkan pada pembukaan/ awal cerita, yang tujuannya memancing penonton untuk menyaksikan kelanjutan cerita di belakangnya. Teaser bisa berupa sebuah scene/ adegan baru yang diciptakan oleh penulis scenario, bisa juga cuplikan adegan paling menarik/ konflik utama yang sudah ada dalam scenario.

VOICE OVER (VO) = Dialog yang terdengar tapi tidak tampak di gambar, misalnya terdengar orang berbicara dari ruang sebelah. Atau, bisa juga orangnya tampak, suaranya terdengar, tapi bibirnya tidak bergerak, jadi dia terlihat berbicara dalam hati.

Demikian, Terimakasih.

Beberapa Jabatan Dalam Bidang Film



1. Produser Eksekutif, merupakan seorang investor yang membiayai proyek film atau video
yang diberikan kepada filmmaker (pembuat film) atau videoklipmaker. Produser eksekutif
bisa terdiri dari banyak orang.

2. Produser yaitu seseorang atau beberapa orang yang bertugas mengelola segala hal yang
berhubungan dengan pembuatan film/video. Produser harus menginisiasi,
mengkoordinasi, mensupervisi dan mengontrol segala hal tentang pembiayaan, merekrut
personal atau kru dan pengaturan distribusi. Seorang produser akan terlibat pada
keseluruhan tahapan proses pembuatan film dari awal sampai akhir. Produser
bertanggung jawab kepada Produser Eksekutif yang berhubungan dengan kinerjanya.

3. Manajer Produksi, bertugas mengawasi aspek fisik produksi yang tidak berhubungan
dengan proses kreatif sebuah film atau video. Manajer produksi mengawasi personil,
teknologi, anggaran dan penjadwalan. Merupakan tugas manajer produksi untuk
memastikan bahwa pembuatan film atau video sesuai dengan penjadwalan dan anggaran
yang disediakan. Manajer Produksi juga bertugas mengelola kebutuhan sehari-hari
termasuk gaji kru, biaya produksi dan biaya sewa peralatan. Manajer Produksi bekerja
dibawah Line Producer dan bertugas mensupervisi langsung Koordinator Produksi.

4. Manajer Unit, untuk pembuatan film atau video yang besar, tugasnya hampir sama
dengan manajer produksi sebagai pengawas second production, tetapi untuk skala kecil
biasanya ditempatkan sebagai pengelola transportasi produksi.

5. Koordinator Produksi, bertugas mengkoordinasikan yang berhubungan dengan informasi
produksi. Koordinator produksi bertanggung jawab untuk mengatur semua logistik dari perekrutan kru produksi, menyewa peralatan dan pencarian talent/artis. PC (Production
Coordinator) merupakan bagian dari produksi film.

6. Post-Production Supervisor, bertugas untuk mengawasi pelaksanaan paska produksi.

7. Director/Sutradara, bertanggung jawab terhadap aspek kreatif film, termasuk konten dan
mengendalikan alur plot, mengarahkan aktor, menyusun dan memilih lokasi dimana
pelaksanaan shoting film, menentukan waktu dan isi dari soundtrack film. Meskipun
kekuasaan dan wewenang sutradara besar, ia tetap tunduk dibawah komando produser.

8. First Asisstan Director, disebut juga 1st
AD bertugas membantu manajer produksi dan
sutradara. Inti pekerjaannya adalah memastikan jadwal yang sesuai dan menjaga
lingkungan kerja yang kondusif dimana sutradara, aktor, dan kru dapat fokus pada
pekerjaan mereka masing-masing. Mereka mengawasi kegiatan setiap hari kerja dan
mengatur penjadwalan pemain/aktor dan kru, mengawasi serta menjadwalkan pemakaian
peralatan,script/naskah dan set. 1st
AD juga bertanggung jawab untuk menyutradarai
background aksi dari aksi utama pada shoting-shoting besar/kecil sesuai arahan sutradara.

9. Second Assistant Director, merupakan kepala asisten-asisten dibawah 1st
AD yang
bertugas membantu pekerjaan yang didelegasikan kepada 1st
AD. Ia juga berugas
membantu penyutradaraan latar belakang aksi dan extras dan membantu 1st
AD untuk
urusan penjadwalan dan booking. Ia bertanggung jawab untuk membuat Call Sheet yang
digunakan kru untuk mengetahui kapan jadwal mereka untuk bekerja dan detail syuting
apa saja dalam satu hari.

10. Asisten Produksi, bertugas membantu 1st
AD untuk menyiapkan Set Operasi. Asisten
produksi disebut PAs (Production Assistant). Selain itu juga membantu
kantor/departemen produksi untuk membantu pekerjaan-pekerjaan umum.

11. Script Supervisor dikenal sebagai “petugas kontiniti” (continuity person). Pengawas
naskah bertugas mencatat bagian mana dari naskah yang telah difilmkan/divideokan dan
membuat catatan dari setiap penyimpangan antara apa yang difilmkan/divideokan dan
yang ada pada naskah. Mereka bertugas mencatat setiap shoot dan menjaga properti tetap
pada tempatnya, menjaga blocking, dan detail lainnya yang memastikan kontinuitas
adegan. Pengawas Naskah memberikan catatan kepada editor untuk mempercepat proses
pengeditan film. Mereka bekerja sangat dekat dengan sutradara dan set.

12. Stunt Coordinator, bertugas untuk mengkoordinasikan pemain akrobat atau peran
pengganti jika dalam adegan membutuhkan pemeran pengganti/stuntman.


Dalam pembuatan film/video dibutuhkan bagian yang berhubungan dengan seni/art yang disebut Kru Departemen Seni/Art Department. Departemen seni biasanya mempunyai jumlah kru yang banyak mencapai puluhan hingga ratusan pekerja. Terdiri dari beberapa
sub bagian, antara lain: art departemen terdiri dari art director, desainer set, dan juru gambar, kemudian tata dekorasi, props, konstruksi, scenic/latar belakang, dan spesial efek.


13. Desainer Produksi, bertanggung jawab terhadap penciptaan fisik untuk tampilan sebuah
film yaitu hal-hal yang berhubungan dengan setting, kostum, properti, make up karakter,
dan semua pekerjaan unit. Desainer produksi bekerja sangat dekat dengan sutradara dan
sinematografer untuk menciptakan tampilan sebuah film.

14. Art Director, bertanggung jawab kepada desainer produksi, bertugas mengawasi
langsung kinerja seniman dan pengrajin, seperti para desainer, seniman grafis, dan
ilustrator yang memberikan rancangan untuk dikembangkan oleh desainer produksi. Art director bekerja bersama bagian konstruksi untuk mengawasi estetika dan detail tekstur
set yang sesuai sepeti yang diharapkan.

15. Asisten Art Director, terdiri dari beberapa asisten yang bertugas langsung ke lapangan
seperti mengukur lokasi, membuat desain grafis, menyediakan kertas-kertas,
mengumpulkan informasi untuk desainer produksi, dan menggambar set. Mereka juga
mengepalai para juru gambar sebagai mandor pelaksana.

16. Desainer Set, merupakan para juru gambar yang biasanya terdiri dari para arsitek, yang
memahami tentang desain interior atau diminta langsung oleh desainer produksi.

17. Ilustrator, bertugas menggambarkan representasi visual desain untuk
mengkomunikasikan ide-ide yang dibayangkan oleh desainer produksi.

18. Set Decorator, terdiri dari beberapa orang yang bertugas mendekorasi sebuah film atau
video, yang meliputi perabot, dan semua benda-benda yang akan terlihat dalam sebuah
film/video. Mereka bekerja sama dengan desain produksi dan berkoordinasi dengan art
director.

19. Buyer, bertugas mencari dan membeli atau menyewa perlengkapan set dress/pernak-
pernik untuk keperluan dekorasi.

20. Lead Man, merupakan kepala/mandor dari kru set. Lead Man sering disebut Swing Gang.

21. Set Dresser, pengatur pernak-pernik perlengkapan set dekorasi yang bertugas menata dan
menghilangkan pernak-pernik dekorasi sepertiu furnitur, gorden, karpet, dan segala
sesuatu yang akan terlihat di layar film/video, termasuk gagang pintu dan paku.

22. Props Master, merupakan kepala/ahli properti yang lebih dikenal dengan sebutan props
master. Ia bertugas untuk menemukan dan mengelola semua properti yang terlihat di
film/video. 23. Props Builder, merupakan ahli pembangun properti yang bertugas membangun properti
yang dibutuhkan oleh tampilan film/video, seperti membangun panggung, konstruksi,
pengecoran plastik, permesinan dan elektronik.

24. Armourer, merupakan ahli pembuat senjata, yaitu para teknisi alat-alat khusus yang
berhubungan dengan senjata api. Dalam beberapa kasus hal ini membutuhkan
keterampilan khusus.

25. Construction Coordinator (Koordinator Konstruksi), bertugas mengawasi pembangunan
semua set. Koordinator konstruksi menangani pemesanan material, penjadwalan kerja,
dan juga mensupervisi untuk pekerjaan dalam skala besar terhadap para tukang kayu,
tukang cat dan buruh bangunan. Dalam beberapa istilah koordinator konstruksi juga
disebut manajer konstruksi.

26. Head Carpenter (Kepala Tukang Kayu), kepala tukang kayu adalah mandor dari para
tukang kayu dan buruh bangunan.

27. Key Scenic Artist, merupakan para pekerja seni yang mengawasi dan bertanggung jawab
terhadap hal-hal yang berhubungan dengan penampilan luar dari set-set yang dibutuhkan.
Hal tersebut termasuk cat-cat khusus yang memberikan efek penuaan atau penyepuhan,
sesuatu terlihat seperti kayu, batu, batu bata, logam, kaca, dan segala sesuatu yang
dibutuhkan oleh desainer produksi. Key Scenic Artist mengawasi para pelukis dan ahli
kerajinan.

28. Greensman, yaitu Kru Hijau yang merupakan ahli bidang pertanaman yang mengatur
artistik atau landscape yang berhubungan dengan tanaman dan tumbuh-tumbuhan.
Kadang-kadang tanaman/tumbuhan asli tetapi kadang-kadang yang imitasi atau
kombinasi keduanya. Kebutuhan ahli tanaman ini bergantung kepada desainer produksi apakah memerlukan atau tidak. Kalau dalam suatu film/video membutuhkan
perlengkapan tanaman/tumbuhan dalam jumlah besar biasanya dibagi-bagi menjadi sub
divisi, seperti Greensmaster, Greens Supervisor, buruh dan lainnya.

29. Make Up Artist, merupakan seniman yang bekerja dengan make up, tatanan rambut dan
membuat efek-efek khusus untuk menciptakan karakter bagi siapapun yang akan muncul
di layar. Make Up Artist bertugas membuat manipulasi tampilan aktor di layar agar
mereka tampak tua, tampak lebih muda atau beberapa kasus tampak mengerikan. Ada
juga bagian make up artis yang berkonsentrasi ke bagian badan.

30. Hairdresser, bagian dari make up artist yang bertugas menata dan menjaga gaya rambut
siapa pun yang akan muncul di layar.


Tata busana ditangani oleh kru Wardrobe, yaitu:

31. Costume Designer, atau Perancang Busana bertanggung jawab atas semua pakaian dan
kostum yang dikenakan oleh semua aktor yang muncul di layar. Mereka bertanggung
jawab untuk merancang, merencanakan, dan mengorganisasikan pembuatan mulai dari
kain, warna, dan ukuran. Perancang kostum bekerja sangat dekat dengan sutradara untuk
memahami dan menafsirkan karakter, dan memberikan saran kepada desainer produksi
untuk menyelaraskan tone/nuansa keseluruhan film.

32. Costume Supervisor, supervisi kostum bekerja bersama perancang busana. Selain
membantu mendesain kostum, ia juga membantu mengelola penyimpanan kostum.
Mereka mengawasi segala order pakaian, mulai dari pengadaan barang, merekrut staf,
anggaran, dokumen, dan logistik.

33. Key Costumer, dipekerjakan pada pembuatan produksi yang besar untuk mengatur set
kostum, dan menangani kebutuhan pakaian bintang film/video.

34. Costume Standby yaitu petugas yang harus selalu hadir di setiap set kostum. Mereka
bertanggung jawab pada kualitas dan kontinuiti kostum dari aktris/aktor sebelum dan
sesudah pengambilan gambar. Mereka juga menjadi asisten aktris/aktor dalam hal
kostum. Orang-orang ini juga sering disebut set costumer.

35. Art Finisher, bekerja dalam masa pra produksi untuk membantu membuat break down
yang berhubungan dengan kain.

36. Wardrobe Buyer bertugas menangani pembelian segala macam kebutuhan garmen dan
pernak-perniknya.

37. Cutter/Fitter merupakan divisi kostum bagian teknis yang bertugas mengukur dan
menyesuaikan kostum artis.

CAMERA CREW
Bagian penting dalam film atau video adalah kru kamera. Kru kamera terdiri dari beberapa keahlian yng berhubungan dengan proses pengambilan gambar. Kru kamera antara lain:

38. Director of Photography (DOP) mengepalai kru kamera dan lighting. DOP membuat
keputusan pada pencahayaan dan pembingkaian adegan dan berkoordinasi dengan
sutradara. Biasanya, sutradara menceritakan bagaimana mereka ingin tampilan saat
shoting, dan DOP memilih aperture yang tepat, filter, dan pencahayaan untuk mencapai
efek yang diinginkan.

39. Cinematographer pada prinsipnya sama dengan DOP, tetapi banyak perdebatan diantara
insan perfilman. Mereka dapat disebut Cinematographer jika orang tersebut adalah DOP
yang juga mengoperasikan kamera.

40. Camera Operator bertugas mengoprasikan kamera berdasar arahan dari DOP atau
sutradara untuk merekam setiap scene/adegan.

41. First Assistant Camera (Focus Puller) disebut juga 1st
AC bertugas memastikan dan
mengamati bahwa kamera selalu dalam kondisi fokus obyek yang sesuai ketika merekam
gambar dalam setiap adegan.

42. Second Assistant Camera (Clapper Loader) juga disebut 2nd
AC bertugas mengoprasikan
clapperboard pada permulaan setiap adegan dan mencatatnya sebagai stok shot di sela-
sela pengambilan gambar. Ia juga bertugas cek dan ricek setiap stok shot dalam
catatannya ketika mengirim dan menerima film diproses di laboraturium (jika
menggunakan film seluloid). Ia juga mengatur dan mengawasi peralatan kamera dan
urusan transportasi camera di lokasi shoting.

43. Loader bertugas mengisi kaset/film dalam kamera. Ia juga memeriksa dan memastikan
stok kaset/ film dan berkoordinasi dengan 1st
AC tentang penggunaan stok kaset/film
yang akan digunakan. Dalam pembuatan film/video yang tidak terlalu besar biasanya
tugas ini digabungkan dengan 2nd
AC.

44. Digital Imaging Technician (DIT) bertugas melakukan manipulasi gambar dan
berkoordinasi dengan DOP untuk memberikan saran dalam rangka memproduksi gambar
untuk dikombinasikan dengan digital teknik pada kamera digital.

45. Motion Control Technician/Operator bertugas untuk mengontrol pergerakan pada
penggunaan alat-alat bantu kamera / kamera robot untuk menghasilkan efek-efek khusus.
Kru Produksi Sound terdiri atas:

46. Produstion Sound Mixer merupakan kepala produksi bagian perekaman suara, yang
bertugas dan bertanggungjawab terhadap perekaman suara selama pembuatan film/video.
Mereka menentukan penggunaan mikrofon sesuai kebutuhan, pengoprasian alat-alat
perekam, dan kadang-kadang melakukan mixing suara pada satu waktu.

47. Boom Operator merupakan asisten dari Production Sound Mixer, yang bertanggung
jawab terhadap pergerakan dan penggantian mikrofon selama pembuatan film/video. Ia
juga mengatur penempatan mikrofon radio dan set mikrofon yang tersembunyi. Di
Perancis boom operator disebut perchman.

48. Utility Sound Technician(UST) memiliki lingkup ruang kerja yang dinamis dalam bagian
divisi departemen suara. Biasanya mengurusi permasalahan kabel, tetapi kadang juga
sebagai boom operator tambahan ketika memproduksi film yang besar. UST sering
disebut cableman atau phyton wrangler.

Kru Grip.
Kru Grip merupakan bagian Lighting dan perlengkapan yang terlatih. Mereka
bertanggung jawab untuk bekerja sama dengan departemen listrik untuk menempatkan
lighting yang dibutuhkan selama shoting berlangsung.

49. Key Grip merupakan kepala Grip yang mengepalai departemen set operasi. Ia bekerja
bersama DOP untuk membantu menempatkan dan membuat blok untuk posisi Lighting.

50. Best Boy Grip merupakan asisten dari key grip. Mereka bertanggung jawab mengatur
pengangkutan grip untuk kepentingan shoting.

51. Dolly Grip yaitu grip yang bertugas mengoperasikan dolly kamera.

Kru Electrical,

52. Gaffer merupakan kepala dari departemen listrik. Merencanakan dan mengeksekusi
perencanaan lighting untuk keperluan produksi.

53. Best Boy Electrical merupakan asisten gafer.

54. Lighting Technician (LT) ikut membantu menyeting dan mengontrol perlengkapan
lighting.

Kru Editorial

55. Film Editor bertugas mengedit film/video dan menggabungkannya menjadi tayangan film
atau video berdasar arahan dari sutradara.

56. Colorist untuk film-film menggunakan seluloid bagian ini bertugas memproses warna
film sesuai dengan artistik dan kontinuiti dari pewarnaan film. Dengan menggunakan
teknologi digital proses pewarnaan film lebih baik dan lebih kreatif. Dalam skala kecil
biasanya sudah dikerjakan oleh editor. Untuk video tidak diproses secara kimiawi.

57. Negative Cutter bertugas memotong film negatif berdasar arahan dari editor film.

Kru Visual Effect

58. Visual Effect Supervisor bertugas pada departemen visual efek. Visual efek dilakukan
pada pasca produksi berhubungan dengan perubahan-perubahan gambar yang dilakukan.
Visual efek berbeda dengan spesial efek yang bekerja pada fase produksi.

59. Compositor merupakan Visual Efek artis yang bertugas mengkombinasikan dan
menggabungkan gambar-gambar dari berbagai sumber yang berbeda-beda, seperti video,
film, computer generate 3D imagery, animasi 2D, foto dan teks.

60. Graphics Designer merupakan ahli desain grafis menciptakan dan berkreasi dengan
desain grafis yang melengkapi permintaan kebutuhan visual efek yang akan
dikomposisikan oleh compositor.

Kru Sound/Musik,

61. Sound Designer disebut juga Sound Editor Supervisor bertanggung jawab terhadap sound
pada pasca produksi. Kadang berhubungan dengan lisensi dari suara yang digunakan.
Dan kadang juga hanya menyeimbangkan suara bersama sutradara dan editor.

62. Dialog Editor bertanggung jawab terhadap penyusunan dan mengedit seluruh dialog.

63. Sound Editor bertanggung jawab terhadap penyusunan dan pengeditan seluruh sound
efek.

64. Re-recording Mixer menyeimbangkan suara antara dialog, musik, dan efek. Kemudian
menyelesaikannya dalam bentuk film audio track.

65. Composer bertugas menulis score musik untuk film.

66. Foley Artist merupakan artis atau orang yang bertugas merekam dan membuat beberapa
sound efek untuk film.

Teknik "Miss-En-Scene" (Menata Scene) pada Perfileman



Berkarya itu penting... namun ada yang paling penting dari semua itu adalah terus belajar, jangan dulu jumawa apalagi puas dengan sebuah karya. Paling tidak agar karya kamu tidak tersesat dan hanya menjadi karya yang itu.. itu saja. Memerlukan puluhan referensi untuk menghasilkan karya yang bagus, kalau hanya sekadar syuting dan asal muncul gambar itu pertanda kamu itu SOMBONG alias JUMAWA. Referensi diperlukan untuk menginspirasi bukan untuk menjadi plagiat/meniru, kecuali jika kamu telah cukup tahu teori dasarnya.

Karya audio visual (Film, Feature, Dokumenter) menjadi bagus dalam ukuran yang baik adalah karena banyak referensi yang kita gunakan juga baik. Anak-anak muda para penggiat broadcast hari ini banyak sekali, namun sedikit yang mau belajar secara inten dan kontinyu. Mereka ingin cepat-cepat syuting dan menjadikan karya yang menurutnya keren, padahal mohon maaf karya itu "gagu" tidak mampu bicara baik dari sisi visual maupun audio. Maka diperlukan apa yang di namakan miss en scene (dalam sinamatografi) atau scenic art (dalam sinema elektronik).

Miss-en-scene menurut kamus kecil istilah film (penerbit IKJ) adalah istilah mis-en-scene digunakan untuk menunjuk proses sinematis yang terjadi dalam sebuah set sebagai kebalikan dari MONTAGE yeng terjadi kemudian. Secara literal artinya ”menata-dalam-scene”. Mulai dari menyutradarai pemain, pengaturan posisi-posisi kamera, pemilihan (penentuan) lensa dll. Mis-en-scene sangat penting bagi kaumREALIS, sedang montage bagi kaum EKSPRESIONIS.

Mise-en-scene [baca: mis ong sen] adalah segala hal yang terletak di depan kamera yang akan diambil gambarnya dalam sebuah produksi film atau karya visual. Mise-en-scene berasal dari kata Perancis yang memiliki arti "putting in the scene". Mise-en-scene adalah unsur sinematik yang paling mudah kita kenali karena hampir seluruh gambar yang kita lihat dalam film adalah bagian dari unsur ini. Jika kita ibaratkan layar bioskop adalah sebuah panggung pertunjukan maka semua elemen yang ada di atas panggung tersebut adalah unsur-unsur dari mise-en-scene. Sebagai contoh pada saat kita menonton film tentang perang dan epik sejarah mudah kita kenali karena setting serta kostumnya yang megah dan mewah. Lalu kita lihat pada film horor serta misteri didominasi suasana yang gelap serta suram yang amat mencekam. Berbeda dengan film-film drama serta komedi boleh jadi menekankan pada akting pemain. Dengan demikian bisa kita katakan bahwa separuh kekuatan sebuah film terdapat pada aspek mise-en scene.

Mise-en-scene terdiri dari empat aspek utama, yakni:
 Setting (latar)
 Kostum dan tata rias wajah (make-up)
 Pencahayaan (lighting)
 Para pemain dan pergerakannya (akting)

Dalam sebuah film unsur mise-en-scene tentu tidak berdiri sendiri dan terkait erat dengan unsur sinematik lainnya, yaitu sinematografi, editing, dan suara. Tanpa keterlibatan unsur-unsur sinematik lainnya, unsur mise-en-scene tak ubahnya layaknya pertunjukan panggung belaka. Apakah pernah anda melihat sebuah film yang mengambil gambar hanya menggunakan satu latar saja, dengan menggunakan hanya satu kamera tanpa pergerakan dan perubahan dimensi jarak, serta tanpa interupsi gambar sedikit pun dengan durasi lebih dari satu jam. Tentu tidak, namun jika ada sekalipun bisa jadi filmnya akan sangat membosankan. Jadi sebenarnya unsur-unsur mise-en-scene harus mampu mendukung naratif serta membangun suasana dan mood sebuah film atau karya visual lainnya.

Unsur tersebut mutlak diperlukan dalam membuat suatu karya yang baik, hal ini berlaku untuk karya audio visual (film, program acara tv dan video production). Hari ini mengapa banyak di antara karya audio visual kita yang dangkal bahkan bisa dibilang “gagu” tidak mampu bertahan lama dan hanya bersifat selintas, ditonton hari ini dan dicampakkan kemudian hari. Mari coba kita perhatikan mengapa karya audio visual orang-orang Eropa, Amerika, Korea ditonton berkali-kali pun tidak pernah bosan dan terus membuat hati kita berkecamuk, ini karena mereka memasukkan unsur mise-en-scene.

Sebagai saran anak-anak muda para penggiat broadcast tv, film dan video production mari mencoba mempelajari apa sesunggunya diperlukan agar karya kamu berbicara secara universal dan menjadi absolut. Jangan JUMAWA pada saat kamu sudah bisa membuat karya, bisa jadi karya mu itu memang “gagu” karena hanya membanggakan diri tidak mau belajar mencari referensi sebanyak-banyaknya. Banya menonton dan baca adalah keberhasilan kamu untuk membuat karya audio visual yang “bicara”. SELAMAT BERKARYA... Salam Broadcast

Mengambil Gambar Sinematik Dalam Pembuatan Film

Beberapa tahun yang lalu ketika saya belajar membuat film dengan kamera video seadanya kemudian saya tunjukkan ke beberapa teman yang awam tidak tahu teknik membuat karya film. “Wah film kamu bagus... keren... cuma sayang audionya ko berantakan ya..?” begitu kata teman yang saat itu saya tunjukan film yang saya buat. Berbeda dengan pendapat teman satu guru satu ilmu yang saat itu masih sama-sama belajar, “filmnya sih keren.. bagus... tapi audionya berantakan, komposisi shot/gambar dan warna kurang ok, editingnya lumayan lah.. secara umum belum sinematik”

Nah... apa sih sinematik? Banyak orang yang bicara sinematik tapi mungkin banyak juga yang belum tahu apa itu sinematik. Yang pasti, yuk... kita urai dahulu makna sinematik secara kamus.sinematik/si·ne·ma·tik/ /sinématik/ berkenaan atau berhubungan dengan film (bioskop, gambar hidup) itu menurut KBBI. Sedangkan menurut kaidah sineas (sebutan bagi mereka penggarap film) sinematik adalah unsur pembangun sebuah film yang bersifat teknik, unsur sinematik sendiri terdiri dari beberapa aspek :
– Mise en scene
– Sinematografi
– Editing
– Suara

Pengertian secara sederhana sinematik adalah mengambil gambar sesuai dengan kaidah film untuk bioskop. Coba perhatikan bila kita menyaksikan film yang diputar di bioskop nyaris tidak ada gambar (shot) yang kurang bagus, semua indah enak dilihat. Sedangkan di dalam mise en scene ada 4 elemen penting antara lain :
– Setting
– Tata Cahaya
– Kostum dan make up
– Akting dan pergerakan pemain

Lalu bagaimana menciptakan gambar yang sinematik? 

Setting dan Komposisi
Yang pertama kita perhatikan adalah komposisi sebuah shot (gambar/visual) yang kita ciptakan sebelum kita membahas teknik yang lain. Ada perbedaan yang menonjol bahwa ketika kamu mengambil gambar dengan komposisi yang tepat maka akan muncul beberapa elemen namun yang paling penting adalah depth of field (kedalaman gambar). Bagaimana itu bisa tercipta? Nah berikut unsur-unsur yang ada dalam kedalaman gambar : fourground, background, middle ground, leding lines, natural framing, dan balance. Unsur tersebutlah yang menciptakan kedalaman gambar. Unsur-unsur tersebut erat kaitannya dengan setting sebuah lokasi. Sadarkan..? pada saat kita mengambil gambar asal ambil yang muncul adalah kejanggalan bahkan gambar yang kita ambil cenderung flat.


Tata Cahaya
Dalam teori dasar pencahahaan kamu harus tahu istilah three point lighting yang terdiri dari key light, fill light, dan back light. Komposisi pencahayaan tersebut adalah dasar untuk menguasai tata cahaya lanjutan. Key light adalah cahaya utama atau cahaya yang datang dari arah yang paling terang/dominan. Fill light adalah cahaya pengisi dari key light untuk menyamarkan shadow yang diciptakan dari cahaya dominan. Sedangkan back light adalah cahaya pengisi antara key light dan fill light sehingga mampu menciptakan dimensi kedalaman gambar.


Tata cahaya dalam film secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat unsur, yakni, kualitas, arah, sumber, serta warna cahaya. Keempat unsur ini sangat mempengaruhi tata cahaya dalam membentuk suasana serta mood sebuah film.

Kostum dan Make up 
Kostum adalah segala hal yang dikenakan pemain bersama seluruh asesorisnya. Asesoris kostum termasuk di antaranya, topi, perhiasan, jam tangan, kacamata, sepatu, tongkat, dan sebagainya. Dalam sebuah film busana tidak hanya sekedar sebagai penutup tubuh semata namun juga memiliki beberapa fungsi sesuai dengan konteks naratifnya.

Penggunaan kostum dan make up adalah menjadi unsur pencipta realitas visual, sehingga apa pun visual yang kita ambil muncul keseriuasan identitas sebenarnya.

Akting dan pergerakan pemain
Kemunculan seorang pemain atau yang biasa kita sebut aktor dan aktris dalam sebuah pengambilan gambar juga harus betul-betul nampak sebenarnya, tidak terlihat main-main, perankan sesuai dengan imajinasi skenario yang ada.

Bagaimana dengan sinematografi?
Sinematografi dalam istilah wikipedia adalah : Sinematografi (dari bahasa Yunani: kinema - κίνημα "gerakan" dan graphein - γράφειν "merekam") adalah ilmu terapan yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan sekaligus menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang memililki kemampuan menyampaikan ide dan cerita. Sedangkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sinematografi/si·ne·ma·to·gra·fi/ /sinématografi/ adalah teknik perfilman; teknik pembuatan film.

Sinematografi erat kaitannya dengan tata kamera pada sebuah penggarapan film. Meskipun di awal sudah saya bahas tentang komposisi, namun pada sinematografi seluk beluk tata kamera biasanya dibahas lebih dalam untuk menunjang proses penciptaan visual sinematik.



Editing dan Koreksi Warna
Berikutnya adalah yang kita perhatikan unsur warna. Unsur warna tentu menjadi esensi yang sangat penting karena dari warna pula dapat menciptakan kedalaman gambar, meskipun biasanya pengolahan warna (grading color) itu masuk dalam teknik olah editing namun pada penggarapannya warna bisa diciptakan pada saat take (mengambil gambar) di lokasi.

Tata suara
Inilah hal terakhir yang paling banyak diabaikan, padahal unsur audio menjadi penunjang utama dari keseluruhan viual yang kita ciptakan. Mengapa banyak visual bagus namun audio jelek? Pertanyaan tersebut banyak teruturakan pada setiap ruang kelas, workshop dan kursus. Saya jelaskan begini, kita ini sangat pelit bila berurusan dengan audio, sebagai contoh banyak di antara tema-teman filmmakers yang enggan untuk belajar dan mendalami tentang tata suara produksi film. Faktor lainnya adalah minimnya harga dan sewa alat yang terjangkau untuk tata suara pada saat kita produksi, satu perangkat audio kadang-kadang harganya menyamai harga kamera yang kita pakai.

Nah.. sejak kemunculan era digital semua jadi lebih mudah dan murah, tinggal bagaimana kita betul-betul memperhatikan tata suara dalam sebuah produksi film yang kita garap.
⬆
Top